Disusun Oleh : Amabella Charita Smaradhina Santosa
Email: amabellacharita@gmail.com
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Kalimantan
Isu dalam konteks kependudukan salah
satunya adalah mengenai urbanisasi. Apa itu Urbanisasi? Apa perbedaannya antara
urban dan urbanisasi? Apakah ada keterkaitannya antara urbanisasi dalam konteks
kependudukan? Apa saja faktor penarik dan pendorong urbanisasi? Masalah apa
saja yang timbul akibat adanya urbanisasi? Apakah urbanisasi membawa dampak yang
baik atau buruk? Adakah solusi dari urbanisasi?
Sebelum Kita
membahas lebih dalam terkait pembahasan tersebut, mari kita simak terlebih
dahulu apa arti urbanisasi sebenarnya.
Urbanisasi adalah salah satu hal dan masalah yang cukup serius di
Indonesia. Urbanisasi, menurut Pontoh dan Kustiawan (2015) adalah proses menjadi kota, yang artinya proses suatu kawasan
menjadi kawasan perkotaan, migrasi in (masuk kota), perubahan pekerjaan (dari
bertani menjadi yang lain), dan juga menyangkut perubahan pola perilaku /
kebiasaan manusia.
Dalam prespektif ilmu kependudukan, urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang dilatar belakangi suatu tujuan.
Dalam prespektif ilmu kependudukan, urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota yang dilatar belakangi suatu tujuan.
Urban dan
urbanisasi memiliki perbedaan, yaitu Urban (kawasan perkotaan) dapat
didefinisikan sebagai kawasan perkotaan yang memiliki kgiatan utama selain
pertanian disusun juga sebagai permukiman perkotaan, dan pemusatan perbelanjaan, sedangkan Urbanisasi secara harfiah berati pengkotaan,
yaitu proses menjadi kawasan perkotaan.
Selanjutnya
adalah pembahasan mengenai kaitan antara urban dan urbanisasi dalam konteks
kependuduka. Kependudukan
berhubungan dengan struktur, jumlah, jenis kelamin, umur, kelahiran, kematian,
pertahanan, dan sebagainya yang juga berhubungan dalam hal ekonomi, sosial,
budaya dan lain sebagainya. Keterkaitan antara urbanisasi dengan kependudukan
dapat diartikan sebagai meningkatnya proporsi jumlah penduduk di perkotaan
untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dibandingkan dengan laju
pertumbuhan ekonomi.
Ada beberapa faktor yang memicu timbulnya urbanisasi,
salah satunya adalah faktor ekonomi. Ketidakpuasaan penduduk desa dengan
kondisi yang dialami menjadi pendorong para penduduk desa pindah ke kota. Faktor
lainnya yaitu lengkapnya fasilitas umum, pendidikan, dan lapangan pekerjaan di
perkotaan.
Menurut Brunn & William (1993), masalah
perkotaan (urban problem) yang timbul akibat adanya urbanisasi adalah mengakibatkan
pertambahan kepadatan penduduk dan kekurangan sarana prasarana, berkurangnya
lahan, pemukiman kumuh dan liar, kerusakan lingkungan, dan kemacetan lalu
lintas.
Dari penjabaran urbanisasi yang telah
dijelaskan di atas, dampak positif urbanisasi adalah dapat memenuhi kebutuhan
tenaga kerja di kota, meningkatkan taraf hidup penduduk desa, dan tingkat perekonomian
di daerah perkotaan semakin berkembang. Sedangkan dampak negatif urbanisasi
adalah berkurangnya tenaga terampil dan terdidik di desa, produktivitas
pertanian di desa menurun, dan tindak kriminalitas di kota semakin.
Sebuah studi kasus urbanisasi yang terjadi di Indonesia adalah
sebagai berikut.
Tabel 1. 1 Lima Provinsi dengan Angka Urbanisasi Terbesar dan Terkecil di Indonesia
Tahun 2000 dan Tahun 2010
|
Tahun 2000
|
Tahun 2010
|
||
|
Provinsi
|
Angka
Urbanisasi
|
Provinsi
|
Angka
Urbanisasi
|
|
DKI Jakarta
|
100,0
|
DKI Jakarta
|
100,0
|
|
Kepulauan Riau
|
76,5
|
Kepulauan Riau
|
82,8
|
|
Kalimantan Timur
|
57,7
|
Banten
|
67,0
|
|
DI Yogyakarta
|
57,6
|
DI Yogyakarta
|
66,4
|
|
Banten
|
54,7
|
Jawa Tengah
|
65,7
|
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010.
Berikut
adalah tabel persebaran penduduk menurut karakteristik wilayah dengan
menggunakan angka urbanisasi yaitu presentase penduduk yang tinggal di daerah
perkotaan. Angka urbanisasi di seluruh provinsi mengalami peningkatan. Hal ini
bisa disebabkan oleh perpindahan penduduk perdesaan ke perkotaan dan juga
disebabkan oleh bertambahnya luas wilayah perkotaan. Provinsi dengan angka urbanisasi
terbesar adalah DKI Jakarta dengan besar presentase yaitu 100 persen. Pada
urutan selanjutnya adalah Kepulauan Riau, Banten, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat
dengan angka urbanisasi masing-masing di atas 65 persen. Provinsi dengan angka
urbanisasi terendah adalah Nusa Tenggara Timur, dimana hanya 19,3 persen
penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan.
Urbanisasi memiliki dampak negatif,
sehingga diperlukannya solusi untuk dapat menanggulanginya, terutama untuk
mengatasi permasalahan kemiskinan yang terjadi di darah pedesaan. Cara
mengatasi peningkatan urbanisasi adalah dengan Pendekatan Friedman (terutama
untuk mengatasi persoalan kemiskinan yang terjadi di pedesaan).
1. Program
redistribusi lahan dalam program reforma agraria untuk para petani di daerah pedesaan
yang seharusnya segera direalisasikan. Kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh
bagi peningkatan kesejahteraan atau perekonomian warga pedesaan.
2. Penguatan terhadap kelembagaan usaha ekonomi yang berskala produktif. Dalam UU Desa dikenal suatu institusi perekonomian yang dikenal dengan Badan Usaha Milik (BUM) desa. BUMDes ini diharapkan menjadi
institusi ekonomi berbasis masyarakat yang dapat meningkatkan usaha bersama
untuk meningkatkan pendapatan sekaligus menyerap tenaga kerja bagi masyarakat
perdesaan.
3.
Peningkatan
kemampuan masyarakat desa dengan terus melakukan inovasi dan teknologi tepat
guna. Pada saat inilah peran dunia pendidikan untuk melakukan pendampingan terhadap pembangunan masyarakat desa.
Dengan peran serta
seluruh pemangku kepentingan seperti Kementrian Desa, Pertanian, Dalam Negeri,
Sosial Dikbud, Pemerintah Daerah, dan instansi lainnya memiliki kebijakan yang
menyeluruh dan terintegrasi, maka masalah urbanisasi akan dapat teratasi dengan
sendirinya dengan pembangunan yang berfokus pada pedesaan.
Daftar
Pustaka
Amabella, Diah, dan Ahmad Diego (2019). Makalah Kependudukan.
Balikpapan: Institut Teknologi
Kalimantan
Kalimantan
Badan Pusat Statistik. 2010. Penduduk Indonesia Menurut
Provinsi dan Kabupaten/Kota Sensus
Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik: Jakarta.
Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik: Jakarta.
Pontoh, N.K dan Kustiawan (2009). Pengantar Perencanaan
Perkotaan. Bandung: Bina Cipta.




0 komentar:
Posting Komentar