Sebelumnya ada yang tau ngga sih Peta itu apa? Sebenarnya arti dari Peta itu apa ya? Pasti diantara kita masih bertanya-tanya mengenai Arti dan Maksud Peta sesungguhnya.
Terus simak blog ini sampai habis ya, agar kita lebih memahami apa sih arti peta sebenarnya.
Terus simak blog ini sampai habis ya, agar kita lebih memahami apa sih arti peta sebenarnya.
Oke, jadi ini penjelasan mengenai peta menurut para ahli dari sumber terkait:
- Peta adalah gambaran/proyeksi dari sebagian permukaan bumi pada bidang datar atau kertas dengan skala tertentu. (Russell C. Brinker, 1984).
- Secara umum Peta didefinisikan sebagai gambaran dari unsur-unsur alam maupun buatan manusia yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu (PP Nomor 10 Tahun 2000).
- Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal 2005): Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambil keputusan pada tahapan pada tingkatan pembangunan.
- Menurut ICA (International Cartographic Association): Peta adalah gambaran atau representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan.
- Menurut Aryono Prihandito (1988): Peta merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu.
Apa sih Fungsi Peta itu sendiri? Peta memiliki beberapa kegunaan dan manfaat.
Menurut Dedy Miswar
(2012) peta mempunyai fungsi untuk mencatat atau menggambarkan secara
sistematis lokasi data permukaan bumi, baik data yang bersifat fisik maupun
budaya yang sebelumnya sudah ditetapkan. Peta menggambarkan fenomena
geografikal dalam wujud yang diperkecil dan mempunyai kegunaan yang luas
apabila didesain dengan tujuan khusus sedangkan menurut Sinaga dalam Dedy
Miswar (2012) kegunaan peta antara lain untuk kepentingan pelaporan,
peragaan, analisis, dan pemahaman dalam interaksi dari obyek atau kenampakan
secara keruangan (spatial relationship).
Menurut Samadi (2007)
tujuan pembuatan peta secara umum adalah untuk menyimpan data tentang objek
geografi di permukaan bumi dalam bentuk gambar. Data yang berada di bumi tidak
hanya data spasial saja akan tetapi data atribut yang juga bisa disimpan dan
disajikan dalam bentuk peta. Tujuan pembuatan peta adalah sebagai berikut:
a. Menunjukkan lokasi atau wilayah objek geografi.
b. Menunjukkan arah, jarak dan luas suatu wilayah.
c. Menggambarkan objek atau kenampakan yang ada dimuka bumi dalam bentuk fisik
maupun sosial.
d. Menggambarkan fenomena perubahan (dinamika) alam.
e. Untuk komunikasi ruang.
f. Untuk menyimpan informasi.
g. Membantu pekerjaan
h. Analisis data spasial
Peta yang terkelolah dalam metode digital mempunyai
keuntungan penyajian dan penggunaan secara konvensional peta garis cetak (hard
copy) dan keluesan, kemudahan penyimpanan, pengelolaan, pengolahan, analisis
dan penyajiannya secara interaktif bahkan real time pada media komputer (soft
copy) Subagyo (2003).
Sejak awal penemuannya, peta terus berkembang baik jenis
dan kegunaannya. Jenis-jenis dan kegunaan peta yang ada saat ini masih dapat
berubah di masa depan.
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kegunaan peta secara umum,
adalah :
1. Alat bantu untuk menyampaikan
informasi
Contoh : Peta kekeringan, peta
banjir, peta petak sawah
2. Alat komunikasiContoh : Peta persil tanah Æ
Bappeda - Agraria
3. Media untuk menuangkan ide-ide
Contoh : Peta design jaringan
jalan, bangunan, pipa dll
4. Laporan yang ringkas dan padat
Contoh : Peta kepadatan
penduduk, peta distribusi beras.
5. Informasi dasar untuk
mengembangkan pekerjaan selanjutnya
Contoh : Peta
topografi, peta kelerengan, peta administrasi
Sejarah Perkembangan (Transformasi) Perpetaan
1. Periode AwalPertama kali, peta dibuat oleh bangsa Babilonia berupa lempengan berbentuk tablet dari tanah liat sekitar 2300 SM. Pemetaan di jaman Yunani Kuno sangat maju pesat. Pada saat itu, Konsep dari Aristoteles bahwa bumi berbentuk bola bundar telah dikenal oleh para ahli filsafat (sekitar 350 SM.) dan mendapat kesepakatan dari semua ahli bumi. Pemetaan di Yunani dan Roma mencapai kejayaannya oleh Ptolemaeus (Ptolemy, sekitar 85 – 165 M). Peta dunia yang dihasilkannya menggambarkan dunia lama dengan pembagian Garis Lintang (Latitude) sekitar 60° Lintang Utara (N) sampai dengan 30° Lintang Selatan (S). Dia menulis sebuah karya besar Guide to Geography (Geographike Hyphygesis). Dengan meninggalkan karangan yang dijadikan sebagai acuan ilmu Geografi yang mendunia sejak jaman kebangkitannya.
2. Periode Pertengahan
1. Periode AwalPertama kali, peta dibuat oleh bangsa Babilonia berupa lempengan berbentuk tablet dari tanah liat sekitar 2300 SM. Pemetaan di jaman Yunani Kuno sangat maju pesat. Pada saat itu, Konsep dari Aristoteles bahwa bumi berbentuk bola bundar telah dikenal oleh para ahli filsafat (sekitar 350 SM.) dan mendapat kesepakatan dari semua ahli bumi. Pemetaan di Yunani dan Roma mencapai kejayaannya oleh Ptolemaeus (Ptolemy, sekitar 85 – 165 M). Peta dunia yang dihasilkannya menggambarkan dunia lama dengan pembagian Garis Lintang (Latitude) sekitar 60° Lintang Utara (N) sampai dengan 30° Lintang Selatan (S). Dia menulis sebuah karya besar Guide to Geography (Geographike Hyphygesis). Dengan meninggalkan karangan yang dijadikan sebagai acuan ilmu Geografi yang mendunia sejak jaman kebangkitannya.
2. Periode Pertengahan
Sepanjang periode pertengahan, Peta-peta wilayah Eropa
didominasi dengan cara pandang agama, yang dikenal dengan peta T-O. Pada bentuk
beta seperti ini, Jerusalem dilukiskan di tengah-tengah sebelah timur yang
diorientasikan menuju bagian atas peta. Penjelajahan Bangsa Viking pada abad 12
di Utara Atlantic, secara perlahan menyatukan pemahaman mengenai bumi.
Sementara itu, ilmu kartografi terus berkembang dengan lebih praktis dan realistic di wilayah Arab, termasuk daerah Mediterania. Tentu saja, cara
pembuatan peta masih dilukis dengan tangan, dimana penyebarannya masih sangat
dibatasi.
3. Periode Kejayaan
Penemuan alat cetak pembuat peta semakin banyak tersedia
pada abad 15. Peta pada mulanya dicetak menggunakan papan kayu yang sudah
diukir berupa peta. Percetakan dengan menggunakan lempeng tembaga yang diukir
muncul pada abad 16 dan tetap menjadi standar pembuatan peta hingga teknik
fotografis dikembangkan. Kemajuan utama dalam pembuatan peta mendapat perhatian
sepanjang masa eksplorasi pada abad 15 dan 16. Para Pembuat peta mendapat
jawaban dari Navigation Chart yang menyajikan garis pantai, pulau, sungai,
pelabuhan dan simbol-simbol pelayaran. Termasuk garis-garis kompas dan paduan
navigasi lainnya. Peta-peta ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi, digunakan
untuk tujuan militer dan diplomatic hanya dimiliki oleh pemerintah sebagai dokumen
rahasia negara. Pertama kali Peta Dunia disajikan secara utuh pada awal
abad 16, meneruskan pelayaran dari Colombus dan yang lainnya untuk mencari
dunia baru. Gerardus Mercator dari Flandes (Belgia) menjadi ahli pembuat peta
terkenal pada pertengahan abad 16. Ia mengembangkan proyeksi silindris yang
semakin luas digunakan untuk Navigation Chart dan Peta Global. Berdasarkan pada
proyeksi ini ia menerbitkan sebuah peta pada tahun 1569. banyak proyeksi peta
lain yang kemudian dikembangkan.
4. Periode Modern
Peta terus berkembang pada abad 17, 18 dan 19 secara lebih
akurat dan nyata dengan menggunakan metode-metode yang ilmiah. Banyak Negara
melakukan pemetaan sebagai program nasional. Meskipun demikian,
sebagian belahan dunia banyak yang tidak diketahui walaupun menggunakan potret
udara dengan melajutkan perjalanan Perang Dunia II. Pemetaan Modern berdasarkan
pada kombinasi penginderaan jauh (Remote Sensing) dan pengecekan lapangan
(Ground Observation). Geographic Information Systems (GIS) muncul pada
periode 1970-80-an. GIS menggeser paradigma pembuatan peta. Pemetaan secara
tradisional (Berupa Kertas) menuju pemetaan yang menampilkan gambar dan
database secara bersamaan dengan menggunakan Informasi geografi. Pada GIS,
database, analisa dan tampilan secara fisik dan konseptual dipisahkan dengan
penanganan data geografinya. Sistem Informasi Geografis meliputi perangkat
keras computer (Hardware), perangkat lunak (Software), data digital, Pengguna,
sistem kerja, dan instansi pengumpul data, menyimpan, menganalisa dan
menampilkan informasi georeferensi mengenai bumi (Nyerges 1993).
Salah satu fungsi peta adalah menunjukkan lokasi yang biasanya digambarkan dalam sebaran koordinat. Nah, sebenarnya Sistem Koordinat itu apa sih?
Sistem Koordinat
Sistem koordinat adalah sekumpulan aturan yang menentukan bagaimana koordinat-koordinat yang bersangkutan merepresentasikan titik-titik.
Aturan tersebut berupa titik asal (origin) beserta beberapa sumbu koordinat untuk mengukur jarak & sudut sehingga menghasilkan koordinat.
Sistem koordinat secara umum dibagi menjadi 2:
1. Sistem koordinat 2 D
2. Sistem Koordinat 3 D
- Sistem Koordinat 2D, yang dapat diterima secara meluas:
1) Sistem Koordinat Kartesian (Sistem Koordinat Siku-Siku)
• Tersusun atas garis lurus/ kurva yang saling berpotongan tegak lurus.
• Sumbu ordinat Y: mewakili arah utara
• Sumbu absis X: mewakili arah Timur.
2) Sistem Koordinat Polar/ Kutub
Mendefinsikan posisi menggunakan komponen
jarak & sudut.
- Sistem Koordinat 3D, yang biasa digunakan:
1) Sistem Koordinat Kartesian (Global Cartesian): koordinat (x,y,z) untuk seluruh permukaan bumi. Sistem koordinat kartesian banyak digunakan dalam pengukuran menggunakan sistem
GPS.
2) Sistem Koordinat Geografis (Geographic): menggunakan 2 sudut dan 1 tinggi (koordinat (φ, ƛ, z))
Koordinat z pada kartesian didefinisikan secara geometri, sedangkan pada geografis didefinisikan secara gravitationally
Sistem Referensi Latitude/Lintang (φ) dan Longitude/Bujur (ƛ)
Latitude φ : sudut dari garis equator
Longitude ƛ: sudut dari garis meridian Greenwich
Format posisi:
• hddd.ddddd°
• hddd°mm.mmm’
• hddd°mm’ss.s”
• dll.
Contoh:
• Surabaya: S 07.23726°, E 112.73898°
• Surabaya: S 07°14.2361’, E 112°44.339’
• Surabaya: S 07°14’14.1”, E 112°44’20.3”
Proyeksi Peta
Proyeksi peta adalah teknik-teknik yang digunakan untuk menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin. Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di muka bumi dan di peta. Proyeksi diartikan sebagai metoda/cara dalam usaha mendapatkan bentuk ubahan dari dimensi tertentu menjadi bentuk dimensi yang sistematik.
Menurut bidang proyeksinya, proyeksi peta dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu proyeksi azimuthal, proyeksi kerucut, dan proyeksi silinder.
Proyeksi Azimuthal
Proyeksi azimuthal ialah proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi bentuk ini terdiri atas tiga macam, yaitu sebagai berikut:
- Proyeksi gnomonik, yaitu proyeksi yang titik Y-nya terletak di pusat lingkaran.
- Proyeksi stereografik, yaitu proyeksi yang titik Y-nya berpotongan (berlawanan) dengan bidang proyeksi.
- Proyeksi orthografik, yaitu proyeksi yang titik Y- nya terletak jauh di luar lingkaran.
Proyeksi Kerucut
Proyeksi bentuk ini diperoleh dengan jalan memproyeksikan globe pada bidang kerucut yang melingkupinya. Puncak kerucut berada di atas kutub (utara) yang kemudian direntangkan. Proyeksi dengan cara ini akan menghasilkan gambar yang baik (relatif sempurna) untuk di daerah kutub utara dan di daerah kutub selatan.
Proyeksi Silinder
Proyeksi silinder diperoleh dengan jalan memproyeksikan globe pada bidang tabung (silinder) yang diselubungkan, kemudian direntangkan.
Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)
Proyeksi UTM adalah proyeksi peta yang terkenal dan sering digunakan. UTM merupakan proyeksi silinder yang mempunyai kedudukan transversal, serta sifat distorsinya conform. Bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian yang disebut meridian standar dengan faktor skala 1. Lebar zone 6° dihitung dari 180° BT dengan nomor zone 1 hingga ke 180° BT dengan nomor zone 60. Tiap zone mempunyai meridian tengah sendiri. Perbesaran di meridian tengah = 0,9996. Batas paralel tepi atas dan tepi bawah adalah 84° LU dan 80° LS.
Perbedaan proyeksi UTM dengan proyeksi lainnya terletak pada koordinatnya. Proyeksi lain mengenal koordinat negatif sedangkan proyeksi UTM tidak mengenal koordinat negatif. Dengan dibuatnya koordinat semu, maka semua koordinat dalam sistem proyeksi UTM mempunyai angka positif. Koordinat semu di (0,0) adalah +500.000 m dan + 0 m untuk wilayah di sebelah utara ekuator atau +10.000.000 m untuk wilayah di sebelah ekuator.
Keunggulan sistem UTM adalah Setiap zone memiliki proyeksi simetris sebesar 6°Rumus proyeksi UTM dapat digunakan untuk transformasi zone di seluruh dunia.
- Setelah memahami penjelasan mengenai peta, perlu untuk kita ketahui bagaimana peta tersebut dapat dipahami oleh masyarakat sebagai sumber data yang membantu dalam komunikasi pada bidang perencanaan. Melalui unsur-unsur peta, perencana akan lebih mudah menyampaikan poin-poin utama dalam informasi yang ingin disampaikan. Adapun unsur-unsur dalam peta yang harus ada diantaranya judul peta, skala peta (terbagi menjadi tiga macam, yakni: skala numerik/angka, skala grafik/garis, dan skala verbal), legenda, garis astronomis (terbagi menjadi garis bujur dan garis lintang), petunjuk atau orientasi arah, garis tepi peta/border, peta sisipan/inset, sumber peta, tahun pembuatan, serta warna peta.
- Peta pun memiliki kaitan yang erat dengan produk perencanaan. Setiap produk-produk perencanaan memerlukan peta sebagai bentuk komunikasi dalam menyampaikan informasi perencanaan wilayah dan kota. Adapun produk utama disusun dan diatur melalui undang-undang yang dibuat oleh pemerintah pusat, sedangkan produk pendukung tidak diatur melalui undang-undang. Produk utama terdiri atas RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang), RPJM(Rencana Pembangunan Jangka Menengah), RKPD (Rencana Kerja Perangkat Daerah), RENSTRA (Rencana Strategis), serta SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).
- Sedangkan itu masih terdapat RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang kemudian dibagi menjadi RTRW Nasional, RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten dan RTRW Kota yang disusun berdasarkan pemerintah terkait, Rencana Rinci Tata Ruang, Rencana Kawasan Strategis, dll. yang diatur undang-undang. Didalam RTRW memiliki beberapan muatan penyusun seperti Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kota; Rencana Struktur Ruang Wilayah Kota; Rencana Pola Ruang Wilayah Kota; Penetapan Kawasan Strategis Wilayah Kota; Arahan Dan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota; Serta Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang.
- Tak sampai disitu, masih terdapat produk perencanaan ruang yang ditegaskan melalui Kepmen Kimpraswil No 327/KPTS/M/2002 tentang penyusunan kawasan Perkotaan yang terdiri atas Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan (RSTRKPM), Rencana Umum Tata Ruang Kawasan Perkotaan (RUTRKP), Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan (RDTRKP), serta Rencana Teknik Ruang Kawasan Perkotaan (RTRKP)
Adapun produk pendukung terdiri atas Master Plan (Master Plan Kawasan, Master Plan,
Kegiatan Pembangunan, dll.) serta Rencana Khusus Sektoral(SISTRANAS, TATRAWIL,
RIPPDA).
Kegiatan Pembangunan, dll.) serta Rencana Khusus Sektoral(SISTRANAS, TATRAWIL,
RIPPDA).
- Pada kedua produk perencanaan, terdapat beberapa perbedaan dalam visualisasi peta dalam perencanaan. Pada produk utama, peta cenderung berskala besar, cakupan wilayah cukup luas serta didasari oleh lembaga hukum. Sedangkan pada produk pendukung cenderung berskala kecil atau menjangkau hanya dalam suatu kawasan.
Komponen/Unsur Kelengkapan Peta
Beberapa komponen kelengkapan peta yang secara umum banyak ditemukan pada peta misalnya adalah :

1. Judul PetaJudul peta merupakan nama suatu daerah yang digambar. Judul mencerminkan isi dan tipe peta . Penulisan judul peta hendaknya menggunakan huruf cetak tegak, semua menggunakan huruf besar dan simetris
2. Skala PetaSkala adalah angka yang menunjukkan perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya dipermukaan bumi
3. Arah Mata Angin / Orientasi / Petunjuk ArahPetunjuk arah adalah tanda pada peta yang menunjukkan arah utara, timur, selatan atau arah daerah yang digambar
4. Simbol PetaSimbol peta adalah tanda atau gambar yang mewakili kenampakan yang ada permukaan bumi yang terdapat pada peta kenampakannya,
5. Warna PetaPada peta, warna digunakan untuk membedakan kenampakan atau objek di permukaan bumi
6. Tipe Huruf (Lettering)Penggambar uruf berfungsi untuk mempertebal arti dari simbol-simbol yang ada. Setiap nama simbol menggunakan huruf-huruf standar sebagai berikut.
7. Gratikul (Posisi Geografis)Posisi gografis terdiri atas garis lintang dan garis bujur yang digunakan untuk menunjukkan letak suatu tempat atau wilayah
8. InsetInset adalah peta kecil tambahan dan memberikan kejelasan yang terdapat di dalam peta. Inset juga di gunakan untuk menggambar suatu wilayah yang tidak tergamabr pada peta, sehubungan dengan terbatasnya media gambar.
9. Garis TepiGaris tepi peta sebaiknya dibuat rangkap. Garis tepi peta merupakan garis untuk membatasi ruang peta.
10. LegendaLegenda adalah keterangan yang berupa simbol-simbol pada peta agar peta mudah dimengerti oleh pembaca.
11. Sumber dan Tahun PembuatanSumber dan tahun pembuatan peta merupakan sumber data yang perlu dicantumkan untuk kebenaran peta yang dibuat.
Daftar Referensi
Maruli Sinaga. 1995. "Pengetahuan tentang Peta" . Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Subagyo. 2003. ”Pengetahuan Peta” . Penerbit: Institut Teknologi Bandung
Aber, J. 2004. "Brief History of Maps and Cartography"
Soedomo, S. A. dan Sudarman. 2004. “Sistem dan Transformasi Koordinat” . Departemen Teknik
Geodesi: Institut Teknologi BandungJaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP). 2006. "Seri Panduan Pemeteaan Partisipasif, Garis
Pergerakan"
Wirshing, J. 1995. "Pengantar Pemetaan". Erlangga: Jakarta
Baja, Sumbangan. 2012. “Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah”. Andi:
Yogyakarta
Murtianto, Hendor. 2008. “Modul Belajar geografi”. UPI: Bandung
Produk Rencana Tata Ruang Berdasarkan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang
Subagyo. 2003. ”Pengetahuan Peta” . Penerbit: Institut Teknologi Bandung
Aber, J. 2004. "Brief History of Maps and Cartography"
Merriam, D. F. 1996. "Kansas 19th Century Geologic Maps". Kansas
Academy of Science:
Transactions
Whitfield, P. 1994. "The Image Of The World: 20 Centuries Of World Maps". Pomegranate Artbooks:
San Francisco
Juhadi, 2008. "Makalah Pengetahuan Perpetaan" . Semarang: Geografi UNNES.Transactions
Whitfield, P. 1994. "The Image Of The World: 20 Centuries Of World Maps". Pomegranate Artbooks:
San Francisco
Soedomo, S. A. dan Sudarman. 2004. “Sistem dan Transformasi Koordinat” . Departemen Teknik
Geodesi: Institut Teknologi BandungJaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP). 2006. "Seri Panduan Pemeteaan Partisipasif, Garis
Pergerakan"
Wirshing, J. 1995. "Pengantar Pemetaan". Erlangga: Jakarta
Baja, Sumbangan. 2012. “Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah”. Andi:
Yogyakarta
Murtianto, Hendor. 2008. “Modul Belajar geografi”. UPI: Bandung
Produk Rencana Tata Ruang Berdasarkan Undang – Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang

















